Penulis:
Ahmad Basri
(Advokat dan Pemerhati Sosial)
Tulang Bawang Barat | Prokontra.news | - Pagi ini, Jumat, saya membaca pemberitaan di media online Media Panglima, Kamis, 22 Oktober 2026, berjudul “9 Bulan Dimas Berjuang Melawan Penyakit Tumor Ganas Hingga Berpulang.”
Berita itu bukan sekadar kabar tentang kepergian seorang anak. Di baliknya, tersimpan pertanyaan besar tentang tanggung jawab kemanusiaan dan keberpihakan kita kepada keluarga miskin yang menghadapi musibah.
Dimas masih duduk di kelas IV sekolah dasar. Pada usia ketika seorang anak semestinya belajar, bermain, dan merangkai cita-cita, ia justru harus berjuang melawan tumor ganas selama sembilan bulan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Dimas telah tiada. Namun, kisah perjuangannya tidak boleh berhenti sebagai berita yang dibaca pagi ini, dibicarakan hari ini, lalu dilupakan esok hari.
Persoalan yang harus kita renungkan
sembilan bulan bukan waktu yang singkat. Bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, menghadapi penyakit serius selama itu bukan hanya ujian fisik bagi seorang anak, melainkan juga beban berat bagi seluruh keluarga: mencari pengobatan, memenuhi kebutuhan hidup, mengurus administrasi, menanggung biaya perjalanan, dan mempertahankan harapan.
Persoalannya bukan semata-mata bahwa Dimas telah meninggal dunia. Persoalan yang lebih besar adalah apakah selama sembilan bulan perjuangannya, lingkungan sosial dan institusi yang seharusnya hadir telah benar-benar menjalankan perannya.
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi siapa pun.
Kita tidak memiliki seluruh informasi mengenai upaya yang mungkin telah dilakukan oleh berbagai pihak. Karena itu, tidak adil apabila kita langsung menyimpulkan bahwa semua pihak telah abai.
Kisah Dimas tetap layak menjadi bahan evaluasi. Ketika sebuah keluarga tidak mampu menghadapi penyakit berat, apakah mereka benar-benar sendirian? Apakah mereka mengetahui ke mana harus meminta pertolongan? Apakah ada pihak yang mendampingi mereka memahami prosedur, mengakses layanan kesehatan, dan memperoleh bantuan yang tersedia?
Jangan sampai ada keluarga yang sebenarnya berhak mendapatkan bantuan, tetapi tidak mengetahui prosedurnya. Jangan sampai ada warga yang membutuhkan pertolongan, tetapi tidak pernah teridentifikasi oleh perangkat pemerintahan di lingkungannya. Jangan sampai bantuan tersedia, tetapi orang yang paling membutuhkan justru tidak tahu bagaimana cara mengaksesnya.
Kemiskinan bukan hanya persoalan tidak memiliki uang. Kemiskinan juga dapat berarti keterbatasan informasi, akses, pengetahuan administratif, transportasi, dan kemampuan untuk memperjuangkan hak-hak dasar.
Evaluasi Peran Pihak Terkait
Dalam situasi seperti yang dialami Dimas, tanggung jawab sosial tidak semestinya dibebankan hanya kepada keluarga. Ada banyak pihak yang memiliki peran penting.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan perlu memastikan bahwa keluarga miskin yang menghadapi penyakit berat dapat teridentifikasi dan memperoleh informasi mengenai layanan kesehatan, rujukan, pembiayaan, serta bantuan yang sesuai dengan ketentuan.
Pertanyaannya, apakah kondisi keluarga dan kebutuhan pengobatan Dimas telah terdata? Apakah ada mekanisme yang memungkinkan petugas mengetahui ketika seorang warga miskin menghadapi penyakit serius? Apakah pendampingan diberikan sejak keluarga mulai mengalami kesulitan, bukan hanya ketika masalah telah menjadi pemberitaan?
BAZNAS juga memiliki peran penting dalam menjangkau keluarga miskin yang membutuhkan pertolongan. Lembaga sosial tidak semestinya hanya menunggu permohonan datang, sebab tidak semua keluarga memiliki pengetahuan, keberanian, atau kemampuan untuk mengajukan bantuan.
Pemerintah tiyuh, kepala tiyuh, RT, dan RW merupakan pihak yang paling dekat dengan warga. Mereka semestinya mampu mengenali kondisi masyarakatnya, terutama keluarga yang mengalami kemiskinan, penyakit berat, atau keadaan darurat. Ketika ada warga yang kesulitan, perangkat pemerintahan di tingkat paling bawah seharusnya menjadi pintu pertama untuk mengarahkan mereka kepada layanan yang tersedia.
Lingkungan sekolah juga tidak boleh diabaikan. Dimas adalah seorang peserta didik. Sekolah semestinya memiliki kepekaan terhadap kondisi kesehatan dan sosial siswanya. Ketika seorang anak menghadapi penyakit berat, sekolah dapat berperan melalui komunikasi dengan keluarga, dukungan psikososial, koordinasi dengan pihak terkait, dan perhatian terhadap keberlanjutan pendidikan anak.
Masyarakat pun memiliki peran.
Menyampaikan informasi, menghubungkan keluarga dengan lembaga yang tepat, membantu transportasi, atau mendampingi pengurusan administrasi dapat menjadi bentuk solidaritas yang berarti.
Prosedur memang penting. Tata kelola bantuan harus tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, prosedur seharusnya menjadi jalan untuk menghadirkan pertolongan, bukan tembok yang membuat orang miskin semakin sulit menjangkaunya.
Jika sebuah keluarga tidak memahami prosedur, pihak yang menguasainya semestinya membantu menjelaskan. Jika keluarga tidak mengetahui lembaga yang harus dihubungi, perangkat pemerintahan perlu mengarahkan. Jangan menunggu sampai mereka mampu berbicara dengan bahasa administrasi yang dipahami birokrasi.
Kehadiran Negara Diuji oleh Nasib Warga yang Rentan
Kita tidak sedang mengatakan bahwa bantuan pasti dapat menyelamatkan setiap orang dari penyakit ganas. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa kehadiran bantuan tertentu akan mengubah akhir perjalanan Dimas. Penyakit memiliki kompleksitas medisnya sendiri, dan tidak setiap perjuangan berakhir dengan kesembuhan.
Setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang layak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Setiap keluarga juga berhak memperoleh informasi dan akses terhadap bantuan yang tersedia tanpa harus menghadapi sistem yang rumit sendirian.
Kalaupun pada akhirnya nyawa seseorang tidak dapat diselamatkan, kita tetap berkewajiban memastikan bahwa selama perjuangan itu berlangsung, ia tidak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pertolongan yang semestinya.
Di sinilah makna kehadiran negara diuji. Bukan semata-mata melalui program yang tertulis dalam dokumen perencanaan atau angka anggaran yang dialokasikan, melainkan melalui kemampuan memastikan bahwa warga yang membutuhkan benar-benar dapat menjangkau layanan.
Cerita Dimas perlu menjadi pintu masuk untuk mengevaluasi mekanisme pendataan, komunikasi, rujukan, dan penyaluran bantuan kepada keluarga miskin yang menghadapi penyakit berat. Apakah mekanisme tersebut sudah tersedia?
Jika sudah, apakah pelaksanaannya telah menjangkau warga yang paling membutuhkan? Jika belum berjalan dengan baik, apa yang harus diperbaiki? Jika terdapat kelemahan koordinasi, siapa yang harus memastikan agar kelemahan itu tidak terus berulang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menyampaikan kesedihan, lalu melanjutkan kehidupan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Jangan Biarkan Pertolongan Datang Terlambat. Kita tidak ingin Kabupaten Tulang Bawang Barat kembali dihadapkan pada cerita serupa. Kita tidak ingin ada keluarga lain yang menghadapi penyakit berat tanpa mengetahui ke mana harus meminta pertolongan. Kita tidak ingin ada anak lain yang kisah perjuangannya baru menjadi perhatian luas setelah ia meninggal dunia.
Jangan sampai perhatian kita baru muncul setelah semuanya terlambat. Jangan sampai ucapan belasungkawa lebih mudah ditemukan daripada upaya nyata untuk memastikan keluarga rentan memperoleh pendampingan ketika menghadapi kesulitan.
Perhatian sosial harus diterjemahkan menjadi tindakan, sistem yang bekerja, koordinasi yang nyata, dan keberanian untuk memperbaiki kekurangan.
Pemerintah tidak cukup hanya hadir ketika persoalan telah menjadi pemberitaan.
Perangkat tiyuh tidak cukup hanya mengetahui warganya ketika terjadi peristiwa yang menyita perhatian. Lembaga sosial tidak cukup hanya menunggu permohonan datang. Sekolah dan masyarakat pun tidak semestinya menganggap persoalan keluarga miskin sebagai urusan pribadi yang sepenuhnya berada di luar tanggung jawab sosial.
Kita membutuhkan sistem yang mampu mengenali kebutuhan warga sebelum mereka kehilangan kemampuan untuk meminta pertolongan. Tulisan ini bukan tentang mencari siapa yang harus dipersalahkan atas kepergian Dimas. Ini adalah ajakan untuk memeriksa kembali cara kita memperlakukan warga yang paling rentan.
Dimas telah tiada. Tidak ada kata-kata yang dapat mengembalikan kehidupannya. Tidak ada tulisan yang mampu menghapus kesedihan keluarganya. Namun, kisahnya masih menyisakan tanggung jawab bagi kita yang masih hidup.
Jangan biarkan Dimas hanya menjadi berita yang dibaca pagi ini, dibicarakan hari ini, lalu dilupakan esok hari. Biarlah kisahnya menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai program pembangunan, agenda politik, dan kesibukan birokrasi, masih ada keluarga-keluarga miskin yang membutuhkan perhatian nyata. Mereka tidak selalu mampu bersuara, memahami jalur administrasi, atau memiliki keberanian untuk meminta bantuan.
Mereka mungkin tidak datang mengetuk pintu kantor pemerintahan. Mereka mungkin tidak tahu harus menghubungi siapa. Namun, ketidakmampuan mereka meminta pertolongan bukan berarti kebutuhan mereka tidak ada. Jangan menunggu keluarga miskin datang meminta bantuan. Kenali kebutuhan mereka dan pastikan jalur layanan dapat dijangkau ketika mereka menghadapi kesulitan.
Ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan, berapa besar anggaran yang dibelanjakan, atau berapa banyak program yang diluncurkan. Kemajuan juga harus diukur dari sejauh mana daerah itu mampu melindungi warganya yang paling lemah.
Dimas telah pergi. Tetapi cerita tentang perjuangannya semestinya tetap hidup dalam kesadaran kita. Bukan untuk meratapi kepergiannya tanpa ujung, melainkan untuk memastikan bahwa tanggung jawab tidak berhenti sebagai kewajiban administratif dan kemanusiaan tidak berhenti sebagai slogan.
Jangan sampai Dimas-Dimas berikutnya mengalami perjuangan yang sama dalam kesendirian. Jika ada yang bisa kita perbaiki hari ini, perbaikilah. Jika ada keluarga yang membutuhkan pertolongan, jangkau mereka.
Sebab, pertolongan yang datang terlambat mungkin hanya menyisakan penyesalan, sedangkan kehadiran yang tepat waktu dapat memberikan harapan. (Red)
