Breaking news

Minggu, 25 Januari 2026

Pudarnya Peka Sosial Agama "Pelajaran Bagi Tiyuh Margo Mulyo Tumijajar Tubaba"

      photo : Ilustrasi 


Penulis :

Ahmad Basri

Ketua : K3PP Tubaba


Tulang Bawang Barat | Prokontra.news | - Apa yang terjadi di Tiyuh Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), sesungguhnya adalah cermin memudarnya kepekaan sosial-keagamaan yang bersemayam di dalam hati kita semua.


Kadang kita kerap merasa telah beragama dengan baik tetapi lupa menengok realitas paling dekat bahwa ada manusia yang lapar, anak yatim yang tak terlindungi dan rumah yang nyaris roboh di depan mata.


Kita gemar menyuarakan kegiatan sosial-keagamaan atas nama dakwah dalam bentuk “sumbangan” mengundang pendakwah atau penceramah dengan anggaran biaya puluhan juta rupiah, atau terkadang sibuk membangun ornamen masjid yang megah dan indah.


Pada saat yang sama di sekitar kita ada jeritan sunyi, perut yang lapar, atap rumah yang nyaris runtuh, dan kehidupan yang kalah layak dibanding kandang kambing. Kasus di Tiyuh Margo Mulyo menjadi contoh telanjang.


Seorang “anak yatim piatu” hidup di rumah yang hampir roboh, bangunannya bahkan kalah bagus dibanding kandang kambing. Ironisnya, perhatian baru muncul setelah peristiwa ini viral di media dan menjadi sorotan publik. Baru setelah itu aparatur tiyuh bergerak.


Pertanyaannya dimana nurani kita sebelum camera datang? Di mana kehadiran negara sebelum suara rakyat diperdengarkan lewat media massa? Kepala daerah dan para wakil rakyat seharusnya merasa malu.


Bagaimana mungkin di wilayah yang mereka pimpin masih ada warga yang hidup tidak layak, rumahnya nyaris runtuh, sementara anggaran, program, dan simbol-simbol pembangunan terus dipamerkan?


Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang hal ini. Dalam Surah Al-Ma‘un, Allah secara tegas mengancam orang-orang yang rajin beribadah “shalat” tetapi lalai terhadap nasib orang miskin dan anak yatim piatu.


Surah Al Maun dalam Al Qur’an bukan sekadar nasihat spiritual.melainkan kritik sosial-keagamaan yang tajam dan tanpa kompromi terhadap mereka yang lalai dengan mengabaikan orang-orang miskin dan anak yatim piatu.


Surat Al-Ma‘un telah menelanjangi kemunafikan religius keagamaan, ibadah yang rajin, tetapi empati yang mati. Kesalehan yang sibuk pada simbol tetapi abai terhadap penderitaan nyata. Agama direduksi menjadi kegiatan ritual, serta kehilangan ruh pembelaannya terhadap kaum lemah.


Realitas di sekitar kita menunjukkan hal yang sama. Banyak yang tampak religius “alim" secara simbolik, pakaian, jargon, kegiatan seremonial namun kehilangan kepekaan sosial. Ukuran keimanan dalam Islam justru terletak pada keberpihakan terhadap yang paling rentan yakni orang miskin dan anak yatim piatu.


Peristiwa di Tiyuh Margo Mulyo seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua. Bahwa beragama tidak cukup dengan lantang di atas mimbar tetapi harus hadir dalam tindakan nyata.


Harus dicatat bahwa iman sejati bukan tentang apa yang kita bangun untuk dilihat orang, melainkan siapa yang kita selamatkan dari kelaparan dan ketidaklayakan hidup.


Jika tidak, maka Surah Al-Ma‘un bukan sekadar ayat yang kita baca melainkan cermin yang mempermalukan kita sendiri. Jangan sampai kita termasuk golongan orang - orang ahli ibadah tapi dilaknat oleh Allah sebagaimana di dalam surat Al Maun. (Red)